Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, keberadaan Ponpes dengan para santri di dalamnya memiliki peran penting dalam pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Pimpinan Ponpes Nurul Haramain, Narmada, TGH. Hasanain Juaini, menyebut sistem pendidikan di Ponpes merupakan prototype terbaik pendidikan nasional saat ini. Bahkan modelnya pun akan diadopsi melalui "full day school" seperti yang diwacanakan Mendikbud.
"Sekarang sudah ada full day school, sebenarnya sudah mengarah kepada pondok pesantrenisasi pendidikan Indonesia dan ini semakin baik".
Sementara disinggung perihal peran para santri di dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, inilah kata Hasanain yang selanjutnya menjadi kelompok kekuatan dan menjelma menjadi tentara.
"Justeru santri berjuang itu lebih dulu ada dari pada TNI", ungkapnya.
Untuk itu kata Hasanain, tidak berlebihan rasanya jika pemerintah telah menetapkan Hari Santri Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 22 Oktober. Tentunya kata dia, momentum Hari Santri harus menjadi momentum kebangkitan para santri di seluruh Tanah Air terutama agar mampu bersaing dengan dunia luar.
"Hari Santri ini terlambat datangnya, kemudian diminta sebetulnya dia harus datang tidak perlu diminta karena yang memerdekakan bangsa ini adalah para santri. Harusnya pemerintah sejak awal (menetapkan)", ujarnya.
Melalui momentum Hari Santri Nasional, Hasanain berharap agar para santri di masa mendatang lebih berkualitas lagi dan mampu bersaing di perguruan tinggi favorit.
"(Santri tidak bisa bersaing) itu sekarang, nanti gak. Ya tentu tidak jadi masalah kan. Dulu anak Lombok tidak ada yang bisa masuk UI, sekarang sudah kayak jamur. Kita punya potensi yang sama, kita butuh ikhtiar dan sedikit waktu untuk mengejar", tutupnya. (d)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar