KANGGOK'M TADAHN ?

Sabtu, 21 September 2013

APJATI NTB Ajak Ubah Stigma Buruk TKI


Adanya stigma buruk oleh masyarakat selama ini terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) membuat Apjati NTB perihatin. Hal itu diungkapkan oleh Wasekjen Apjati NTB, Muhammad Syarki ditemui di kantornya kemarin (11/9). Ia menilai stigma buruk terhadap para TKI selama ini diakibatkan oleh kemampuan tenaga kerja kita yang sangat pas-pasan, sehingga berakibat pada proses penempatan kerja di luar negeri. Tidak heran jika kemudian para TKI kita hanya distigmakan bisa bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit yang notabene anggapan mereka itu buruk, padahal akunya, jika TKI mempunyai kemampuan memadai, mereka mempunyai daya tawar tinggi di luar negeri. Tidak hanya itu, mereka juga akan mendapat perlakuan istimewa di sana.
Selama ini terangnya, TKI yang diberangkatkan ke luar negeri asal NTB lebih dari 50 persen merupakan tamatan SD-SMP. Dengan lulusan seperti itu, apa yang mereka bisa perbuat? Jadi wajar mereka ditempatkan di perkebunan kelapa sawit. Kecuali jika mereka dibekali dengan pelatihan-pelatihan lifeskill oleh perusahaan-perusahaan jasa tenaga kerja sebelum diberangkatkan ke luar negeri, baru mereka bisa bersaing.
Dirinya mengaku bahwa menjadi TKI selama ini masih sebagai pilihan alternatif bagi masyarakat kita untuk mencari kerja. Padahal tidak ada bedanya kerja di dalam dengan luar negeri, justeru kerja di luar negeri memiliki gaji yang jauh lebih besar. Sebagaimana diketahui bahwa TKI selama ini menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar kedua setelah perminyakan kepada Negara dengan memberikan remmitance yang mencapai belasan trilyun, namun itu baru yang terdeteksi saja, masih banyak yang belum terdeteksi.
Untuk menghilangkan stigma buruk TKI di mata masyarakat, pihaknya mengaku sering memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait dengan keberadaan TKI di luar negeri, selain itu pihaknya meminta kepada perusahaan jasa tenaga kerja untuk lebih memperbanyak pelatihan-pelatihan keterampilan kepada masyarakat yang mau menjadi TKI, terutama pelatihan dasar berbahasa asing tempat tujuan para TKI, karena berbahasa merupakan kemampuan standar yang harus dikuasai oleh para TKI. Namun dirinya mengaku bersyukur kepada pemerintah yang telah membangun tempat pelatihan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) di Lotim sebelum mereka diberangkatkan ke luar negeri. “jadi di sana akan dibekali mengenai hak dan kewajiban para TKI selama berada di luar negeri, kemudian diberikan materi mengenai kebudayaan Negara tujuan para TKI”, akunya. (dys)







Tidak ada komentar: