Adanya stigma buruk oleh
masyarakat selama ini terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) membuat Apjati NTB
perihatin. Hal itu diungkapkan oleh Wasekjen Apjati NTB, Muhammad Syarki
ditemui di kantornya kemarin (11/9). Ia menilai stigma buruk terhadap para TKI
selama ini diakibatkan oleh kemampuan tenaga kerja kita yang sangat pas-pasan,
sehingga berakibat pada proses penempatan kerja di luar negeri. Tidak heran
jika kemudian para TKI kita hanya distigmakan bisa bekerja di sektor perkebunan
kelapa sawit yang notabene anggapan mereka itu buruk, padahal akunya, jika TKI
mempunyai kemampuan memadai, mereka mempunyai daya tawar tinggi di luar negeri.
Tidak hanya itu, mereka juga akan mendapat perlakuan istimewa di sana.
Selama ini terangnya, TKI yang
diberangkatkan ke luar negeri asal NTB lebih dari 50 persen merupakan tamatan
SD-SMP. Dengan lulusan seperti itu, apa yang mereka bisa perbuat? Jadi wajar
mereka ditempatkan di perkebunan kelapa sawit. Kecuali jika mereka dibekali dengan
pelatihan-pelatihan lifeskill oleh
perusahaan-perusahaan jasa tenaga kerja sebelum diberangkatkan ke luar negeri,
baru mereka bisa bersaing.
Dirinya mengaku bahwa menjadi TKI
selama ini masih sebagai pilihan alternatif bagi masyarakat kita untuk mencari
kerja. Padahal tidak ada bedanya kerja di dalam dengan luar negeri, justeru
kerja di luar negeri memiliki gaji yang jauh lebih besar. Sebagaimana diketahui
bahwa TKI selama ini menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar kedua
setelah perminyakan kepada Negara dengan memberikan remmitance yang mencapai belasan trilyun, namun itu baru yang
terdeteksi saja, masih banyak yang belum terdeteksi.
Untuk menghilangkan stigma buruk
TKI di mata masyarakat, pihaknya mengaku sering memberikan penjelasan kepada
masyarakat terkait dengan keberadaan TKI di luar negeri, selain itu pihaknya
meminta kepada perusahaan jasa tenaga kerja untuk lebih memperbanyak
pelatihan-pelatihan keterampilan kepada masyarakat yang mau menjadi TKI,
terutama pelatihan dasar berbahasa asing tempat tujuan para TKI, karena
berbahasa merupakan kemampuan standar yang harus dikuasai oleh para TKI. Namun
dirinya mengaku bersyukur kepada pemerintah yang telah membangun tempat
pelatihan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) di Lotim sebelum mereka
diberangkatkan ke luar negeri. “jadi di sana akan dibekali mengenai hak dan
kewajiban para TKI selama berada di luar negeri, kemudian diberikan materi
mengenai kebudayaan Negara tujuan para TKI”, akunya. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar