Mataram (Suara NTB)
Semakin bertambah luasnya
lapangan pekerjaan, membuat kemampuan pekerja lifeskill di berbagai bidang
semakin dituntut. Hal itulah yang mengilhami SMK 4 Mataram membuat Community
College salah satu program pelatihan untuk peningkatan lifeskill bagi para pelajar putus sekolah yang belum mendapatkan
pekerjaan. “ini merupakan program untuk membantu masyarakat, yaitu sebuah
program unggulan mengingat SMK 4 yang saat ini mempunyai berbagai fasilitas
pendukung yang cukup lengkap sehingga kami memberikan kesempatan kepada
masyarakat luas untuk memanfaatkannya, atas dasar itulah kami membentuk
Community college” ungkap kepala sekolah SMK 4 Mataram, H. Istiqlal, S.Pd, MM,
ditemui di ruangannya Rabu siang (11/9).
Lebih lanjut H. Istiqlal, S.Pd,
MM, menyampaikan bahwa dengan adanya program seperti ini, diharapkan bisa
mengurangi penganguran di kalangan remaja. “Kami berharap nanti untuk remaja
yang putus sekolah terutama yang tamat SMA sederajat kalau mereka belum punya
pekerjaan, mereka di training disini
dulu selama enam bulan. Begitu kita training disini selama enam bulan, kemudian
kita akan kirim mereka untuk magang di Malaysia karena kita punya mitra di
situ. Selama mereka magang, mereka akan menerima gaji dari pemerintah Malaysia
selain yang terpenting tentunya ialah mereka akan mendapatkan pengalaman,
akunya.
Dikatakannya, uang pendaftaran
untuk masuk mengikuti training dan sekaligus proses pemagangan di Malaysia
termasuk tiketnya, serta lengkap dengan faslitas lainnya, peserta hanya cukup
membayar 2 juta, namun sampai sekarang pendaftar belum banyak, sehingga belum
memenuhi target peserta sejumlah 100 orang. “Cuma sampai sejauh ini,
pendaftarnya masih belum banyak sehingga kami masih mengharapkan kalau masih ada
yang mau mendaftarkan diri silahkan daftar”, tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, Community
College mempunyai dua tahapan, setelah para peserta mendaftar, peserta akan
mendapatkan training selama enam bulan di SMK 4, materi training yang akan
diberikan selama magang ini akan disesuaikan dengan jumlah jurusan yang ada di
SMK 4 seperti materi perhotelan, restoran, perbengkelan, busana dan tata boga
dan lainnya. Pelatihan akan diberikan pada setiap sore dan malam hari. Baru
setelah enam bulan training, kemudaian akan dimagangkan ke Malaysia, tentunya
sesuai dengan bakat dan keahlian setelah mengikuti training tersebut.
Di tempat terpisah, Wasekjen
APJATI NTB, Muhammad Syarki menyambut baik niatan SMK 4 yang membuat program
untuk peningkatan lifeskill para
pelajar yang putus sekolah dan sebelum memberikan pemagangan ke luar negeri.
“Apjati NTB memberikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan oleh SMK 4
terkait dengan pemberian kecakapan keterampilan ini”, tetapi ia mengharapkan agar
pelatihan ini tidak hanya berkonsentrasi pada pelajar yang putus sekolah, namun
bisa dimanfaatkan juga oleh masyarakat yang lebih luas lagi yaitu dengan cara menggandeng
perusahan-perusahaan tenaga kerja agar memberikan pelatihan yang serupa
terhadap calon TKI yang mereka mau berangkatkan. Sehingga para calon TKI mempunyai
keterampilan memadai sebelum mereka berangkat ke luar negeri. “mereka sebaiknya
bermitra dan membangun kerjasama dengan PJTKI, silahkan programnya itu
ditawarkan ke PJTKI untuk pembinaan para calon TKI” tuturnya.
Lebih lanjut Muhammad Syarki
menjelaskan bahwa banyak keuntungan yang diperoleh oleh TKI yang memiliki lifeskill memadai di antaranya ialah
mereka mendapat perlakuan yang berbeda, mulai dari gaji hingga servis mereka di
tempat kerja. Keuntungan lainnya ialah memudahkan agen-agen yang ada di luar
negeri untuk memverifikasi guna penempatan TKI yang memiliki Lifeskill
tertentu. Dirinya juga mengharapkan apa yang dilakukan oleh SMK 4 tersebut
dapat ditiru oleh agen-agen pemberangkatan TKI untuk memberikan pelatihan
kepada calon TKI sesuai dengan keterampilan mereka masing-masing. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar