KANGGOK'M TADAHN ?

Sabtu, 21 Desember 2013

NTB Bukan Sarang Terorisme


Beberapa tahun terakhir, berbagai aksi terorisme kembali mencuat ke permukaan meski gembong-gembong terorisme sudah lebih dahulu tewas. Yang lebih mengejutkan lagi, daerah NTB belakangan sering dikaitkan dengan berbagai aksi terorisme di sejumlah tempat. Sontak kemudian secara nasional melejtikan NTB sebagai salah satu daerah dengan pergerakan terorisme membahayakan terlebih densus 88 menyebut daerah Bima sebagai sarang teroris. Tentu, kesimpulan singkat yang dilontarkan oleh densus 88 ini tidak begitu saja dapat diamini oleh masyarakat NTB secara lebih luas. Hal itu mengingat kultur masyarakat NTB yang selama ini kental dengan nuansa religius. Hal itu bisa terdeteksi dalam lintasan sejarah panjang NTB seperti Lombok yang dikenal sebagai daerah 1000 masjid, begitu juga dengan daerah-daerah lainnya di NTB. Sehingga demikian, kesimpulan tersebut terlihat kontradiktif dengan kondisi masyarakat NTB.
Dengan adanya ‘cap merah’ tersebut, banyak tokoh agama maupun masyarakat NTB angkat bicara menolak pernyataan densus 88 tersebut. Tidak hanya itu, berbagai penelitian untuk membuktikan kebenaran atau pun ketidakbenaran pernyataan densus 88 tersebut bermunculan. Salah satunya ialah penelitian yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjsama dengan Universitas Islam Ngeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam sosialisasi hasil penelitian, potensi terorisme dan pencegahan terorisme yang diselenggarakan oleh Kesbangpol Selasa kemarin (10/12), menemukan bahwasanya daerah NTB bukan sarang terorisme sebagaimana anggapan selama ini.  Zusiana Elly Triantini, M.Si, peneliti asal UIN Sunan Kalijaga menyebutkan berdasar hasil penelitian yang dilakukannya secara nasional pada 20 provinsi lainnya di indonesia bersama sejumlah peneliti lainnya menemukan bahwa NTB bukan sarang terorisme sebagaimana anggapan selama ini. Dalam  penelitian yang dilakukan selama tiga bulan tersebut tidak ditemukan narasi terorisme dalam pemahaman keagamaan masyarakat NTB. Justeru yang berkembang ialah narasi keagamaan radikal dan militan.
Lebih lanjut Zusiana Elly Triantini menyebutkan bahwa militansi yang berkembang di NTB selama ini masih dalam taraf tidak membahayakan. Meskipun tidak berbahaya, namun ia tidak menampik adanya potensi terorisme yang diawali oleh militansi yang kuat di tengah-tengah pelajar tersebut. Sehingga demikian, setiap orang patut untuk mewaspadai kondisi tersebut.
Disebutkannya, bahwa penerimaan narasi militansi dan radikalisme di kalangan pelajar di NTB berasal dari beragam unsur seperti refrensi bacaan (bulletin dan majalah), resonasi dari organisasi luar seperti HTI dan MMI.
Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif yang dilakasanakan dalam kurun waktu tiga bulan yaitu Juli sampai Agustus ini melibatkan 32 demografi informan yang berasal dari 8 unsur seperti remaja mushola, Lembaga dakwah kampus, organisasi pemuda, aktifis politik, tokoh masyarakat, tokoh agama dan khatib. Selain itu, fokus penelitian dilaksanakan di kota Mataram.
Dipilihnya kota Mataram sebagai lokasi peneilitian karena diangggap mampu mewakili berbagai suku dan etnis di NTB. Selain itu, kota Mataram juga sebagai pusat kota tempat bertemunya berbagai unsure kebudayaan. (dys)



Tidak ada komentar: