Beberapa tahun terakhir, berbagai
aksi terorisme kembali mencuat ke permukaan meski gembong-gembong terorisme
sudah lebih dahulu tewas. Yang lebih mengejutkan lagi, daerah NTB belakangan
sering dikaitkan dengan berbagai aksi terorisme di sejumlah tempat. Sontak
kemudian secara nasional melejtikan NTB sebagai salah satu daerah dengan
pergerakan terorisme membahayakan terlebih densus 88 menyebut daerah Bima
sebagai sarang teroris. Tentu, kesimpulan singkat yang dilontarkan oleh densus
88 ini tidak begitu saja dapat diamini oleh masyarakat NTB secara lebih luas.
Hal itu mengingat kultur masyarakat NTB yang selama ini kental dengan nuansa
religius. Hal itu bisa terdeteksi dalam lintasan sejarah panjang NTB seperti
Lombok yang dikenal sebagai daerah 1000 masjid, begitu juga dengan
daerah-daerah lainnya di NTB. Sehingga demikian, kesimpulan tersebut terlihat
kontradiktif dengan kondisi masyarakat NTB.
Dengan adanya ‘cap merah’
tersebut, banyak tokoh agama maupun masyarakat NTB angkat bicara menolak
pernyataan densus 88 tersebut. Tidak hanya itu, berbagai penelitian untuk
membuktikan kebenaran atau pun ketidakbenaran pernyataan densus 88 tersebut
bermunculan. Salah satunya ialah penelitian yang dilaksanakan oleh Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjsama dengan Universitas Islam
Ngeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam sosialisasi hasil
penelitian, potensi terorisme dan pencegahan terorisme yang diselenggarakan
oleh Kesbangpol Selasa kemarin (10/12), menemukan bahwasanya daerah NTB bukan
sarang terorisme sebagaimana anggapan selama ini. Zusiana Elly Triantini, M.Si, peneliti asal
UIN Sunan Kalijaga menyebutkan berdasar hasil penelitian yang dilakukannya
secara nasional pada 20 provinsi lainnya di indonesia bersama sejumlah peneliti
lainnya menemukan bahwa NTB bukan sarang terorisme sebagaimana anggapan selama
ini. Dalam penelitian yang dilakukan
selama tiga bulan tersebut tidak ditemukan narasi terorisme dalam pemahaman
keagamaan masyarakat NTB. Justeru yang berkembang ialah narasi keagamaan
radikal dan militan.
Lebih lanjut Zusiana Elly
Triantini menyebutkan bahwa militansi yang berkembang di NTB selama ini masih
dalam taraf tidak membahayakan. Meskipun tidak berbahaya, namun ia tidak
menampik adanya potensi terorisme yang diawali oleh militansi yang kuat di
tengah-tengah pelajar tersebut. Sehingga demikian, setiap orang patut untuk
mewaspadai kondisi tersebut.
Disebutkannya, bahwa penerimaan
narasi militansi dan radikalisme di kalangan pelajar di NTB berasal dari
beragam unsur seperti refrensi bacaan (bulletin dan majalah), resonasi dari
organisasi luar seperti HTI dan MMI.
Penelitian dengan menggunakan
metode kualitatif yang dilakasanakan dalam kurun waktu tiga bulan yaitu Juli
sampai Agustus ini melibatkan 32 demografi informan yang berasal dari 8 unsur
seperti remaja mushola, Lembaga dakwah kampus, organisasi pemuda, aktifis
politik, tokoh masyarakat, tokoh agama dan khatib. Selain itu, fokus penelitian
dilaksanakan di kota Mataram.
Dipilihnya kota Mataram sebagai
lokasi peneilitian karena diangggap mampu mewakili berbagai suku dan etnis di
NTB. Selain itu, kota Mataram juga sebagai pusat kota tempat bertemunya
berbagai unsure kebudayaan. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar