Bahasa merupakan salah satu hasil
kebudayaan manusia dari masa ke masa. Corak dan warna bahasa pun tergantung
dari kebudayaan masyarakat setempat sebagai penghasil kebudayaan. Wajar kalau
kemudian bahasa selalu diidentikkan dengan kebudayaan suatu daerah tertentu
bahkan tidak jarang bahasa berada pada level sebagai pembentuk identitas suatu
daerah.
Maka atas posisinya yang
strategis sebagai salah satu penyumbang kebudayaan tertentu seperti itulah
bahasa harusnya mendapat perhatian dari semua pihak dikarenakan banyak segi
bahasa yang bisa dikaji untuk kebermanfaatn banyak orang. Meskipun posisi
bahasa seperti gambaran di atas sangat penting, hal itu ternyata tidak didukung
oleh kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang peduli terhadap bahasa.
“Penelitian terhadap berbagai
kajian kebahasaan yang masih terbilang sangat minim menjadi ukuran rendahnya
perhatian terhadap bahasa. Padahal dengan mengkaji berbagai aspek terkait
dengan kebahasaan, banyak manfaat yang bisa diperoleh dalam rangka membangun
peradaban yang lebih baik dari suatu masyarakat tertentu penghasil bahasa”
terang Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB, Dr. Syarifudin, M.Hum, dihubungi Suara NTB Selasa pagi (10/12).
Lebih lanjut, Syarifudin
mengungkapkan bahwasanya persoalan kebahasaan yang belum terungkap selama ini
masih sangat banyak. “Tidak hanya pada aspek kajian-kajian kebahasaan, namun
juga pada aspek kesusastraan yang selama ini masih luput dari pengkajian”.
Padahal, jika aspek-aspek tersebut diteliti, akan mampu memberikan berbagai
manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Meskipun identifikasi mengenai
asal-usul bahasa-bahasa besar di NTB seperti bahasa sasak, samawa dan mbojo
sudah berhasil dilakukan, namun tidak dengan aspek kajian kebahasaan pada tiga
bahasa besar tersebut. Sehingga demikian, kendala masih minimnya peneliti
bahasa pada bidang kajian pada berbagai aspek kebahasaan lainnya itulah yang
menjadi kendala masih belum berkembangnya bahasa di daerah kita. Hal itu tentu
berimplikasi terhadap minimnya publikasi.
Syarifudin juga menghimbau agar
di perguruan tinggi (PT) di NTB yang mempunyai jurusan bahasa agar seluruh
mahasiswanya diarahkan untuk melakukan penelitian pada berbagai aspek
kebahasaan seperti fonologi, sastra dan lain sebagainya.
Sementara itu, di tempat
terpisah, Sekretaris Pusat Bahasa Universitas Mataram, I Made Sujana, menyebut
bahwasanya masih minimnya para peneliti bahasa disebabkan oleh minimnya
anggaran penelitian untuk kajian-kajian kebahasaan oleh para donatur. Hal itu
mengingat, penelitian bahasa yang dilakukan selama ini tidak mempunyai nilai
ekonomis dan hanya dianggap sebagai salah satu cara untuk melestarikan aset
berharga dari suatu daerah oleh para donatur. “Dengan demikian, para donator
kurang memiliki ketertarikan untuk memberikan dana kepada para peneliti bahasa.
Karena bagi sebagian penyandang dana (donatur) masih mempunyai anggapan bahwa
penelitian bahasa tidak mempunyai nilai ekonomis yang bisa membuat mereka
untung secara finansial”.
Sementara para donator
menginginkan penelitian bahasa yang dilakukan dapat memiliki timbal balik
secara ekonomis kepada mereka, I Made Sujana mengharapkan agar para peneliti
bahasa supaya lebih kreatif lagi dalam memilih tema-tema penelitian. Sehingga
proposal yang diajukan kepada donator bisa cepat disetujui. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar