KANGGOK'M TADAHN ?

Sabtu, 21 Desember 2013

Minim Peneliti Bahasa di NTB


Bahasa merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia dari masa ke masa. Corak dan warna bahasa pun tergantung dari kebudayaan masyarakat setempat sebagai penghasil kebudayaan. Wajar kalau kemudian bahasa selalu diidentikkan dengan kebudayaan suatu daerah tertentu bahkan tidak jarang bahasa berada pada level sebagai pembentuk identitas suatu daerah.
Maka atas posisinya yang strategis sebagai salah satu penyumbang kebudayaan tertentu seperti itulah bahasa harusnya mendapat perhatian dari semua pihak dikarenakan banyak segi bahasa yang bisa dikaji untuk kebermanfaatn banyak orang. Meskipun posisi bahasa seperti gambaran di atas sangat penting, hal itu ternyata tidak didukung oleh kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang peduli terhadap bahasa.
“Penelitian terhadap berbagai kajian kebahasaan yang masih terbilang sangat minim menjadi ukuran rendahnya perhatian terhadap bahasa. Padahal dengan mengkaji berbagai aspek terkait dengan kebahasaan, banyak manfaat yang bisa diperoleh dalam rangka membangun peradaban yang lebih baik dari suatu masyarakat tertentu penghasil bahasa” terang Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB, Dr. Syarifudin, M.Hum, dihubungi Suara NTB Selasa pagi (10/12).
Lebih lanjut, Syarifudin mengungkapkan bahwasanya persoalan kebahasaan yang belum terungkap selama ini masih sangat banyak. “Tidak hanya pada aspek kajian-kajian kebahasaan, namun juga pada aspek kesusastraan yang selama ini masih luput dari pengkajian”. Padahal, jika aspek-aspek tersebut diteliti, akan mampu memberikan berbagai manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Meskipun identifikasi mengenai asal-usul bahasa-bahasa besar di NTB seperti bahasa sasak, samawa dan mbojo sudah berhasil dilakukan, namun tidak dengan aspek kajian kebahasaan pada tiga bahasa besar tersebut. Sehingga demikian, kendala masih minimnya peneliti bahasa pada bidang kajian pada berbagai aspek kebahasaan lainnya itulah yang menjadi kendala masih belum berkembangnya bahasa di daerah kita. Hal itu tentu berimplikasi terhadap minimnya publikasi.
Syarifudin juga menghimbau agar di perguruan tinggi (PT) di NTB yang mempunyai jurusan bahasa agar seluruh mahasiswanya diarahkan untuk melakukan penelitian pada berbagai aspek kebahasaan seperti fonologi, sastra dan lain sebagainya.
Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris Pusat Bahasa Universitas Mataram, I Made Sujana, menyebut bahwasanya masih minimnya para peneliti bahasa disebabkan oleh minimnya anggaran penelitian untuk kajian-kajian kebahasaan oleh para donatur. Hal itu mengingat, penelitian bahasa yang dilakukan selama ini tidak mempunyai nilai ekonomis dan hanya dianggap sebagai salah satu cara untuk melestarikan aset berharga dari suatu daerah oleh para donatur. “Dengan demikian, para donator kurang memiliki ketertarikan untuk memberikan dana kepada para peneliti bahasa. Karena bagi sebagian penyandang dana (donatur) masih mempunyai anggapan bahwa penelitian bahasa tidak mempunyai nilai ekonomis yang bisa membuat mereka untung secara finansial”.

Sementara para donator menginginkan penelitian bahasa yang dilakukan dapat memiliki timbal balik secara ekonomis kepada mereka, I Made Sujana mengharapkan agar para peneliti bahasa supaya lebih kreatif lagi dalam memilih tema-tema penelitian. Sehingga proposal yang diajukan kepada donator bisa cepat disetujui. (dys)

Tidak ada komentar: