Mataram (Suara NTB)
Sebagai bentuk kesinambungan dari
program kerja Keaksaraan Fungsional (KF) yang dilaksanakan tahun 2011 lalu,
Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Mataram kini sedang melaksanakan program
kerja Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) yang merupakan kelanjutan dari program
Keaksaraan Fungsional (KF). Program kerja KUM ini merupakan hasil kerjasama
BPPAUDNI Regional V dengan SKB Kota Mataram beberapa waktu lalu.
Menurut Sri Rauhun, SH, salah
seorang Pamong Belajar Pada Pendidikan Formal dan Nonformal di SKB kota Mataram
yang ditemui Suara NTB Kamis pagi (19/9) mengaku kalau program KUM ini merupakan
hasil kerjasama dengan BPPAUDNI Regional V yang telah dilaunching pada tanggal
29 Agustus lalu. “Ini merupakan kelanjutan dari keaksaraan Fungsional KF”
terangnya.
Sampai saat ini akunya, program
Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), telah mempunyai beberapa kelompok binaan. Kelompok yang mendapatkan
pembinaan antara lain yaitu lima kelompok terdapat di Lingkungan Petemon, Lima
Kelompok di Mapak Indah dan Lima Kelompok di Mapak Belatung. Dalam
pelaksanaannya, setiap anggota akan diberikan keterampilan dan beragam bentuk
usaha. Hal itu agar mereka yang mengikuti program KUM ini dapat berusaha
mandiri.
Selain itu, peserta yang boleh mengikuti
program KUM ini ialah terdiri dari peserta Keaksaraan Fungsional (KF) yang
telah lulus dan mendapatkan sertifikat berupa Surat Keterangan Melek Buta
Aksara (Sukma) yang diperolehnya pada saat mengikuti KF yang mendapat
tandatangan langsung dari kepala dikpora atau kepala SKB. Hal ini diperuntukkan
sebagai bentuk penguatan kepada mereka yang telah lulus mengikuti program KF
namun dengan tambahan bekal keterampilan yang akan kita latih, di sana mereka
akan diberikan berbagai bekal untuk memulai usaha mereka. Harapannya ialah agar
masyarakat mampu berdiri sendiri dan mampu melangsungkan hidupnya sesuai dengan
keterampilan yang ada.
Program KUM sendiri direncanakan akan
berlangsung selama tiga bulan di lokasi masing-masing kelompok. “mereka akan
diberikan kesempatan belajar bersama warga sekitar yang mau ikut mengembangkan
kemampuan diri mereka masing-masing yang tentunya akan dibimbing oleh tutor
yang telah memiliki kompetensi. Sedangkan bentuk pelatihannya, disesuaikan
dengan kearifan lokal yang ada di masing-masing lokasi kelompok binaan yang
tentunya memperhatikan pangsa pasar. Seperti dalam bentuk jajan-jajanan
tradisional. Mereka akan diberikan bantuan baik berupa pembelian bahan dan alat
pembuat jajan. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar