KANGGOK'M TADAHN ?

Sabtu, 21 September 2013

KUM Ciptakan Kemandirian Masyarakat


Mataram (Suara NTB)
Sebagai bentuk kesinambungan dari program kerja Keaksaraan Fungsional (KF) yang dilaksanakan tahun 2011 lalu, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Mataram kini sedang melaksanakan program kerja Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) yang merupakan kelanjutan dari program Keaksaraan Fungsional (KF). Program kerja KUM ini merupakan hasil kerjasama BPPAUDNI Regional V dengan SKB Kota Mataram beberapa waktu lalu.
Menurut Sri Rauhun, SH, salah seorang Pamong Belajar Pada Pendidikan Formal dan Nonformal di SKB kota Mataram  yang ditemui Suara NTB Kamis pagi (19/9) mengaku kalau program KUM ini merupakan hasil kerjasama dengan BPPAUDNI Regional V yang telah dilaunching pada tanggal 29 Agustus lalu. “Ini merupakan kelanjutan dari keaksaraan Fungsional KF” terangnya.
Sampai saat ini akunya, program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), telah mempunyai beberapa  kelompok binaan. Kelompok yang mendapatkan pembinaan antara lain yaitu lima kelompok terdapat di Lingkungan Petemon, Lima Kelompok di Mapak Indah dan Lima Kelompok di Mapak Belatung. Dalam pelaksanaannya, setiap anggota akan diberikan keterampilan dan beragam bentuk usaha. Hal itu agar mereka yang mengikuti program KUM ini dapat berusaha mandiri.
Selain itu, peserta yang boleh mengikuti program KUM ini ialah terdiri dari peserta Keaksaraan Fungsional (KF) yang telah lulus dan mendapatkan sertifikat berupa Surat Keterangan Melek Buta Aksara (Sukma) yang diperolehnya pada saat mengikuti KF yang mendapat tandatangan langsung dari kepala dikpora atau kepala SKB. Hal ini diperuntukkan sebagai bentuk penguatan kepada mereka yang telah lulus mengikuti program KF namun dengan tambahan bekal keterampilan yang akan kita latih, di sana mereka akan diberikan berbagai bekal untuk memulai usaha mereka. Harapannya ialah agar masyarakat mampu berdiri sendiri dan mampu melangsungkan hidupnya sesuai dengan keterampilan yang ada.
Program KUM sendiri direncanakan akan berlangsung selama tiga bulan di lokasi masing-masing kelompok. “mereka akan diberikan kesempatan belajar bersama warga sekitar yang mau ikut mengembangkan kemampuan diri mereka masing-masing yang tentunya akan dibimbing oleh tutor yang telah memiliki kompetensi. Sedangkan bentuk pelatihannya, disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada di masing-masing lokasi kelompok binaan yang tentunya memperhatikan pangsa pasar. Seperti dalam bentuk jajan-jajanan tradisional. Mereka akan diberikan bantuan baik berupa pembelian bahan dan alat pembuat jajan. (dys)




Tidak ada komentar: