KANGGOK'M TADAHN ?

Sabtu, 21 September 2013

Mengenal Sosok Penulis Muda NTB; Belajar Untuk Membangun Peradaban


Mataram (Suara NTB)

Belajar, belajar dan tak pernah berhenti belajar. Begitu spirit yang selalu ditanam sosok mungil bernama lengkap Astar Hadi ini. Lahir dari orang tua petani desa dan religius, di Dusun Kelana Desa Sepakek Kecamatan Pringgarata, kehidupan Astar semasa kecil digembleng didikan agama yang terbilang cukup ketat. Sejak usia empat tahun, ia harus melewati masa kanak-kanaknya dengan menghabiskan waktu pagi, siang, sore dan malam “hanya” untuk belajar mengaji yang digembeleng langsung di bawah didikan ayah yang tebilang berkarakter keras dan disiplin. Ia dipaksa untuk selalu bangun di pagi buta dengan pecut sapi menemani di sampingnya yang, sesekali, hinggap di pundak jika ia mengalami kesalahan berulang-ulang. Pernah suatu kali, jamaknya karna kenakalan bocah seusianya, ia pun harus menerima hukuman “berendam” tai sapi di kandang samping rumahnya. “Kisah yang tak akan pernah saya lupa, bapak saya memang keras sekali, tapi maksud beliau baik dan sangat peduli pendidikan anak-anaknya,” kenangnya saat ditemui Suara NTB beberapa waktu lalu.

Menginjak usia remaja, bungsu dari enam bersaudara ini nyantri di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri  selama enam tahun, mengikuti jejak dua saudaranya yang terlebih dulu di sana. Paska melewati fase pendidikan agama, Astar berlabuh di Pulau Jawa, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bertepatan dengan “hangatnya” gejolak Reformasi 1998 yang melengserkan Soeharto.  Berbeda dari sebelumnya, di kampus inilah jejak “darah politik” mulai mengalir di tubuh pria yang gemar menulis ini. Bergulat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Jurusan Ilmu Komunikasi, membawanya memperdalam kajian-kajian komunikasi politik.

Pun, karena kegemaran membaca membawa pribadi yang supel dan ramah ini mempelajari kajian lintasdisiplin yang cukup luas. Hal itu dia tunjukkan dari puluhan tuliasan “warna-warni” yang pernah dimuat di sejumlah media massa lokal maupun nasional. Nuansa filsafat, politik, psikologi, kritik sastra, agama, cultural studies, tampak “menghiasi” tulisan-tulisan dan rak bukunya.

Jejak-jejak teoritis-akademis seakan melekat pada diri pria belum berumah tangga ini. Produktivitas mencipta karya tulis terus mengalir. Dua buku, Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis Mark Slouka terhadap Jagat Maya (LKiS Yogyakarta: 2005) dan Quovadis Pragmatisme Vs Idealisme (Litera Buku Yogyakarta: 2011), adalah buah tangannya. Balutan teori-teori menjadi “kelebihan” tersendiri bagi dirinya, baik di saat berdiskusi maupun menulis. “Gak tau ya, kalau ngobrol sama teman-teman, khususnya pas diskusi, secara gak langsung saya kadang ngajuin teori tanpa saya sadari. Apa yang kebetulan pernah saya baca, tiba-tiba nyantol. Keluar sendiri gitu aja,” cetus pria yang juga pendiri/penanggung jawab Jurnal Madzhab Djaeng (for Multicultural Stidies and Social Sciences) Malang ini.

Dunia organisasi di luar kampus juga tak luput dari aktivitas kemahasiswaanya. Pergulatan ini, secara perlahan, membentuk karakter kuat, tegas dan tak mudah menyerah yang “mendarahdaging” pada sikap-sikap yang ditunjukkan. Meski mengakui tak pernah terlibat dalam aktivitas LSM, karena pengalaman berorganisasi plus keberanian yang dimilikinya, tak jarang ia mengadvokasi secara sendiri atas suatu fenomena yang dianggapnya “tak adil.”  Pernah suatu kali di tahun 2006, demi membela anak-anak yang tak bisa masuk sekolah karna terbilang “miskin”, pria yang juga Caleg DPRD Povinsi NTB Dapil VIII dari Partai Demokrat ini mendatangi sebuah sekolah Negeri di bilangan Kecamatan Pringgarata dan beradu argumentasi alot dengan sejumlah pihak sekolah sehingga anak-anak tersebut pada akhirnya diterima di tempat tersebut. (dys)


Tidak ada komentar: