Mataram (Suara NTB)
Berbagai bentuk program untuk
meningkatkan kapasitas dan kapabilitas tenaga pendidik dan siswa terus
dilakukan oleh SMK 4 Mataram. Setelah sebelumnya bekerjasama dengan Belanda,
kali ini giliran Australia yang mendapat kesempatan untuk bekerjasama. Hal itu
disampaikan oleh kepala sekolah SMK 4 Mataram H. Istiqlal, S.Pd, MM, Rabu siang
(11/9). “Kita sedang merancang kerjasama dengan Departemen Pendidikan Australia
untuk pertukaran guru dan pelajar, jadi untuk pertukaran guru dan pelajar itu
nanti bisa sampai enam bulan. Artinya kalau gurunya yang dari Australia ngajar
bahasa inggris, nanti di sini mereka juga akan ngajar bahasa inggris, begitu
juga dengan guru kita yang ngajar bahasa Indonesia, di sana nantinya juga akan
mengajarkan bahasa Indonesia”. Selain itu tuturnya, guru-guru kita juga
nantinya akan memberikan pelajaran mengenai kebudayaan dan kesenian kepada mereka,
sedangkan mereka, selain mengajari bahasa Inggris juga akan memberikan pengajaran
mengenai tekhnologi”
Meski masih dalam bentuk
rancangan, namun pihaknya optimis kerjasama ini bisa terlaksana dengan baik,
tinggal menunggu dukungan dari pemerintah. “Kita sedang merancang program
tersebut dan kita sedang membuatkan laporan kepada kepala Dikpora Kota Mataram untuk
memberikan inisiatif baru kita mulai terangnya. Dijelaskannya bahwa Kerjasama
ini dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kapabilitas peserta didik
dan juga guru. “Dengan mereka melakukan go internasional tersebut, tentunya
pasti akan membawa manfaat bagi SMK 4 sendiri”. Namun tentunya, mereka yang
akan diberangkatkan ke Australia harus mengikuti tes terlebih dahulu. Semuanya
diberikan kesempatan yang sama kepada seluruh guru dan siswa, tidak ada anak
emas, atau karena kedekatan dengan kepala sekolah seperti yang pernah kita
lakukan dulu pada saat manjalin kerjasama dengan Belanda. “pernah kita kirim
siswa 3 orang dan guru 1 orang dengan proses seleksi terlebih dahulu”,
terangnya.
Sebelumnya, SMK 4 pernah
bekerjasama dengan pemerintah Belanda, tetapi karena Belanda itu agak jauh dan
ongkosnya lumayan mahal makanya dihentikan dan beralih ke Australia karena
dinilainya lebih prospek. Karena harga tiket untuk ke Australia tidak terlalu
mahal makanya bisa kita tanggung sendiri, sedangkan untuk urusan adminstrasi,
dan logistik lainnya urusan pemerintah Australia nantinya di sana, begitu juga
dengan mereka ketika sudah berada di sini menjadi tanggung jawab kami, akunya. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar