Praya (Suara NTB)
Ketua
PGRI NTB Drs. H. Ali A. Rahim, dalam acara Halal Bi Halal dan Pelepasan Guru
Calon Jemaah Haji Lombok Tengah menyampaikan bahwa proses pemberian tunjangan sertifikasi
guru di NTB ini masih kacau balau. Hal itu terlihat dari adanya kabupaten/kota
se NTB yang masih melakukan penunggakan terhadap pembayaran tunjangan
sertifikasi para guru.
Adanya
penunggakan tunjangan sertifikasi guru di sejumlah kabupaten/kota di NTB
khususnya di kabupaten Lombok Timur yang mencapai 98 Milyar untuk tahun 2012
misalnya, Drs. H. Ali A. Rahim, secara tegas mengatakan itu harus segera
dibayar, “tidak ada lagi yang main komplain-komplain, itu wajib hukumnya
dibayar”. Karena apa, itu sudah menjadi hak guru dan dana itu sudah ditransfer
ke kabupaten/kota hanya barangkali tinggal rekapitulasi kekurangannya berapa.
Dan insyaallah akan dibayar nanti menurut Juknisnya. Sedangkan jika masih ada tunggakan
untuk tahun 2010-2011 akan dianggarkan pada APBD perubahan 2013 ini, ungkapnya.
Diakuinya, sebagai salah satu mitra kerja Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
(Dikpora) kabupaten/kota, PGRI sudah melakukan berbagai sinergitas untuk
mengantisipasi berbagai bentuk persoalan guru.
Lebih
lanjut Drs. H. Ali A. Rahim, mengatakan meski kesejahteraan guru itu penting
sebagai salah satu syarat peningkatan kualitas pendidikan, namun itu bukan hal
yang utama. Tunjangan sertifikasi guru itu bukan untuk peningkatan
kesejahteraan guru. Tetapi pemberian sertifikasi untuk guru ini ialah sebuah
pencitraan bangsa indonesia terhadap dunia. Karena pemberian jasa terhadap guru
sangat rendah di asia tenggara. Yang kedua ialah untuk peningkatan mutu
pendidikan, yang ketiga baru untuk kesejahteraan guru. “Jadi nggak boleh
dibalik, akibatnya selama ini guru selalu dikambing hitamkan”.
Dirinya
juga menghimbau, guru-guru tidak boleh melakukan aksi demonstrasi menuntut
pembayaran sertifikasi ini, “kita ini adalah guru yang mempunyai karakter
kepribadian yang di dalamnya itu ada nilai-nilai islam. Jadi kalau sudah buntu,
meskipun mereka adalah manusia biasa kita komunikasikan dengan baik”
Disinggung
mengenai banyaknya guru yang terjun langsung ke dalam politik praktis, ketua
PGRI NTB ini menyampaikan bahwa “mereka yang terjun ke politik ialah guru-guru
yang punya kepedulian terhadap dunia pendidikan, karena ini adalah hal yang
lumrah. Saya pikir teman-teman anggota PGRI itu ialah orang yang cerdas mereka
akan memilih sesuai dengan hati nurani. Secara kelembagaan tidak ada instruksi
untuk itu (berpolitik praktis), tetapi secara personal mereka ialah orang-orang
yang cerdas untuk mengambil sikap (politik).
Drs.
H. Ali A. Rahim, juga menjelaskan bahwa PGRI itu mempunyai sifat unitristik. Pertama,
tidak ada perbedaan di antara satu dengan yang lainnya, yang kedua ialah PGRI
merupakan institusi non partai politik, jadi wajib anggota PGRI itu belajar
politik tetapi politik praktis itu nggak boleh. Sehingga jangan sampai menjual
kerbau dalam karung. Jadi pembelajaran politik itu wajib bagi guru. Ungkapnya. (dys)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar